Berita > Inovasi
Jika Berhasil Dikembangkan, G100 Berpotensi Membuka Babak Baru Hilirisasi Industri Sawit
Bensin G100. Foto: gapki.id
Jakarta, myelaeis.com - Minyak sawit ternyata tidak hanya bisa diolah menjadi biodiesel. Komoditas perkebunan andalan Indonesia ini juga berpeluang menjadi bahan baku bensin melalui teknologi yang dikenal sebagai G100.
G100 merupakan konsep bensin yang menggunakan bahan baku berbasis minyak sawit, bukan minyak bumi.
Teknologi ini menjadi salah satu peluang hilirisasi sawit karena membuka pemanfaatan komoditas tersebut untuk sektor energi selain biodiesel.
Pengembangan bensin berbasis sawit di Indonesia bahkan bukan sekadar wacana. Berdasarkan informasi yang dilansir Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), pengujian teknologi tersebut pernah dilakukan di Kilang Plaju, Sumatera Selatan, sejak akhir 2018.
Dalam proses pengujian, minyak sawit yang digunakan berupa Refined, Bleached and Deodorized Palm Oil (RBDPO). Bahan tersebut merupakan minyak sawit yang telah melalui proses pemurnian sehingga berbagai pengotor, warna, bau, dan getah telah dihilangkan.
RBDPO kemudian digunakan dalam proses pengolahan bensin melalui teknologi co-processing di kilang.
Hasil pengujian menunjukkan minyak sawit memiliki potensi untuk menghasilkan bensin dengan angka oktan yang cukup tinggi. Ketika RBDPO digunakan dengan proporsi 5 persen, bensin yang dihasilkan memiliki angka oktan sekitar 90,7.
Penggunaan RBDPO kemudian ditingkatkan menjadi 7,5 persen. Pada komposisi tersebut, angka oktan bensin tercatat sekitar 91,3.
Sementara itu, penggunaan RBDPO hingga 12,5 persen diproyeksikan mampu menghasilkan bensin dengan karakteristik yang setara dengan bensin beroktan 92.
Pengembangan teknologi tersebut juga disebut telah masuk ke tahap produksi. Sejak Desember 2018, Kilang Plaju dilaporkan memproduksi bensin hijau secara rutin dengan volume sekitar 405 ribu barel per bulan.
Selain bensin, proses pengolahan tersebut menghasilkan produk samping berupa gas elpiji yang disebut mencapai sekitar 11.000 ton per bulan.
Namun, capaian itu belum berarti Indonesia sudah memiliki bensin G100 yang seluruh bahan bakunya berasal dari sawit dan tersedia secara komersial di SPBU.
Teknologi yang diterapkan masih menggunakan skema co-processing. Artinya, RBDPO menjadi salah satu bagian dari bahan baku yang diproses bersama komponen lainnya.
Sementara itu, konsep G100 membutuhkan pengembangan lebih lanjut agar bahan bakar bensin dapat diproduksi dengan bahan baku sawit secara penuh.
Jika berhasil dikembangkan secara komersial, G100 berpotensi membuka babak baru hilirisasi industri sawit Indonesia.
Selama ini, pemanfaatan sawit sebagai bahan bakar lebih dikenal melalui biodiesel sebagai substitusi solar. Kehadiran bensin berbasis sawit dapat memperluas pasar domestik sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut.
Meski demikian, jalan menuju G100 masih menghadapi sejumlah tantangan. Investasi kilang, biaya produksi, ketersediaan bahan baku, standar mutu bahan bakar, hingga dukungan kebijakan pemerintah menjadi faktor penting.
Dengan demikian, bensin sawit 100 persen belum bisa ditemukan masyarakat di SPBU saat ini. Namun, pengujian yang pernah dilakukan di
Kilang Plaju menunjukkan bahwa minyak sawit memiliki peluang untuk masuk lebih jauh ke sektor energi dan menjadi bagian dari masa depan hilirisasi sawit nasional.***






