https://myelaeis.com


Copyright © myelaeis.com
All Right Reserved.
By : Aditya

Berita > Petani

Apkasindo: Hilirisasi Sawit Jangan sampai Membuat Petani hanya Berhenti sebagai Pemasok Bahan Baku

Apkasindo: Hilirisasi Sawit Jangan sampai Membuat Petani hanya Berhenti sebagai Pemasok Bahan Baku

Petani sawit. Foto: aprobi.or.id

Honduras, myelaeis.com – Hilirisasi industri sawit terus menjadi sorotan, bukan hanya karena potensinya meningkatkan nilai tambah komoditas, tetapi juga dampaknya terhadap petani. 

Dari forum internasional di Honduras, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) menegaskan satu pesan penting: petani harus ikut menikmati manfaat dari geliat industri sawit hingga ke sektor hilir.

Pesan tersebut disampaikan Head of International Relation DPP APKASINDO, Dr. (cn) Djono A. Burhan, S.Kom, MMgt (Int. Bus), CC, CL, saat menjadi pembicara dalam II Congreso de Palmicultores di Honduras pada 4–5 Agustus 2026.

Djono hadir mewakili Ketua Umum DPP APKASINDO Dr. Ir. Gulat Medali Emas Manurung, MP., C.IMA., C.APO. Dalam forum tersebut, ia membawa materi bertajuk Experience of Smallholders in Indonesia, Situation, Challenges, Opportunities yang membahas pengalaman sekaligus kondisi, tantangan, dan peluang petani sawit Indonesia.

Menurut Djono, hilirisasi merupakan langkah strategis untuk memperbesar nilai tambah industri sawit. Namun, pengembangan sektor hilir jangan sampai membuat petani hanya berhenti sebagai pemasok bahan baku.

“Petani meskipun berada di paling hulu harus mendapatkan manfaat apa pun yang ada di hilir. Hilirisasi harus terus didorong, tetapi juga harus mengutamakan kesejahteraan petani,” ujar Djono.

Pernyataan tersebut menjadi perhatian penting di tengah semakin kuatnya agenda hilirisasi sawit Indonesia. Selama ini, petani berada di bagian paling awal dalam rantai pasok, tetapi manfaat ekonomi dari produk turunan sawit perlu dipastikan dapat kembali kepada mereka.

Djono menilai kesejahteraan petani harus menjadi bagian tidak terpisahkan dari pembangunan industri sawit nasional.

Dengan demikian, hilirisasi tidak hanya berbicara tentang peningkatan kapasitas industri, investasi, atau pasar produk turunan, tetapi juga bagaimana menciptakan dampak ekonomi yang lebih luas di sentra perkebunan.

Salah satu contoh yang dibawa APKASINDO dalam forum tersebut adalah implementasi mandatori B50. Kebijakan biodiesel ini dinilai menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemanfaatan minyak sawit di dalam negeri.

Menurut Djono, peningkatan serapan domestik dapat memberikan dampak terhadap ekosistem sawit, termasuk petani. Ketika kebutuhan sawit di dalam negeri meningkat, stabilitas pasar dan harga tandan buah segar (TBS) juga diharapkan semakin terjaga.

“Program ini tentunya membantu meningkatkan kesejahteraan petani sawit dengan meningkatkan stabilitas dan meningkatkan harga TBS,” katanya.

APKASINDO juga menekankan bahwa industri sawit memiliki peran jauh lebih besar dibanding sekadar menghasilkan CPO untuk pasar ekspor.

Sawit berkaitan erat dengan penciptaan lapangan kerja, aktivitas ekonomi masyarakat, pembangunan wilayah, hingga program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

Dalam forum internasional tersebut, Djono turut membawa pesan mengenai berbagai layanan BPDP yang diarahkan untuk mendukung peningkatan kesejahteraan petani.

Ia juga mendorong penguatan kerja sama antarpelaku sawit dari berbagai negara. Menurutnya, tantangan perkebunan sawit tidak berhenti di batas wilayah negara sehingga petani dari negara produsen perlu saling bertukar pengalaman.

Kerja sama dapat mencakup peningkatan produktivitas, pertukaran teknologi, penguatan kapasitas petani, hingga pengembangan nilai tambah.

Indonesia sebagai salah satu produsen sawit terbesar dunia dinilai tetap membutuhkan kolaborasi dengan negara produsen lainnya, termasuk Honduras.

“Walaupun Indonesia merupakan negara produsen sawit terbesar di dunia, kita tetap membutuhkan kerja sama dan kolaborasi dengan negara produsen sawit lainnya seperti Honduras,” ujar Djono.

Dalam forum yang sama, Wakil Menteri Kementerian Pertanian dan Peternakan Honduras, Francisco Ordóñez, menyampaikan bahwa industri sawit memiliki peran penting dalam mendukung perekonomian masyarakat Honduras.

Pertemuan tersebut pun menjadi momentum bagi kedua negara untuk bertukar pengalaman dalam mengembangkan perkebunan sawit.

Bagi APKASINDO, hilirisasi pada akhirnya harus menghasilkan industri sawit yang lebih kuat sekaligus memberikan manfaat nyata bagi petani.

Dengan produktivitas yang meningkat, pasar yang semakin luas, teknologi yang berkembang, serta hilirisasi yang berjalan, petani diharapkan tidak lagi hanya menjadi mata rantai paling awal.

Dari Honduras, APKASINDO menegaskan bahwa masa depan hilirisasi sawit tidak cukup hanya diukur dari seberapa besar nilai tambah yang diciptakan industri, tetapi juga dari seberapa besar kesejahteraan yang dirasakan petani.***
 

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS