Ilustrasi B50. Foto: Ist
Jakarta, myelaeis.com - Program biodiesel B50 berbasis sawit sudah berjalan. Lantas, kenapa Pertalite dan Pertamax belum ikut memakai bahan baku sawit?
Ini alasan di baliknya. Sawit sudah 'naik kelas' menjadi bahan bakar diesel melalui program B50. Namun, satu pertanyaan mulai muncul: kalau sawit bisa masuk ke solar, kenapa Pertalite dan Pertamax belum menggunakan bahan baku berbasis sawit?
Padahal, Indonesia memiliki industri sawit yang besar dan bahan baku minyak sawit yang melimpah.
Secara teknologi, minyak sawit sebenarnya juga bisa diolah menjadi bahan bakar bensin melalui teknologi green gasoline.
Jadi, persoalannya bukan sekadar bisa atau tidak bisa. Dilansir dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), terdapat perbedaan mendasar antara biodiesel dan bahan bakar nabati untuk bensin.
Biodiesel menggunakan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berbahan baku minyak sawit, sedangkan bahan bakar nabati untuk bensin saat ini lebih banyak dikembangkan melalui bioetanol.
Bioetanol diproduksi melalui proses fermentasi bahan baku seperti tetes tebu atau molase. Karena itu, produk bensin Pertamina yang telah mengandung unsur nabati antara lain Pertamax Green 95 dan Pertamax Green 92, dengan campuran bioetanol sekitar 5–7 persen atau E5.
Sementara itu, Pertalite, Pertamax, dan Pertamax Turbo yang beredar luas masih berbasis bahan bakar fosil.
Pemerintah juga mendorong pengembangan bioetanol menuju campuran E10 dengan bahan baku tebu dan singkong. Teknologi ini dinilai lebih siap karena bioetanol dapat langsung dicampurkan dengan bensin melalui proses blending.
Namun, produksi bioetanol domestik yang masih terbatas membuat penerapannya belum berlangsung secara nasional.
Di sisi lain, peluang sawit menjadi bahan baku bensin tetap terbuka. Pertamina terus mengembangkan teknologi green gasoline, green diesel, serta fasilitas biorefinery dan co-processing di sejumlah kilang.
Pengembangan tersebut membutuhkan investasi, peningkatan kapasitas fasilitas, kepastian pasokan bahan baku, serta keekonomian produksi sebelum dapat diterapkan secara luas.
Artinya, bukan teknologi yang menjadi tembok utama bensin sawit. Tantangannya adalah membawa teknologi yang sudah dikembangkan menuju produksi komersial berskala besar.
Jika berhasil, pemanfaatan sawit tidak hanya berhenti di B50. Komoditas strategis ini berpeluang semakin dalam masuk ke sektor energi nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah CPO di dalam negeri.
B50 sudah berjalan. Kini pertanyaan berikutnya tinggal satu: kapan sawit benar-benar masuk ke tangki bensin?
Menurut Anda, Indonesia perlu mempercepat pengembangan bensin berbasis sawit atau fokus mematangkan B50 terlebih dahulu?***






