Perkebunan sawit di Malaysia. Foto: voaindonesia.com
Jakarta, myelaeis.com - Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Malaysia kembali melemah setelah sempat menguat selama dua hari berturut-turut.
Kontrak CPO untuk pengiriman September 2026 menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 21 ringgit Malaysia per ton.
Penurunan harga tersebut terjadi ketika pelaku pasar memilih berhati-hati dan menunggu data terbaru mengenai kondisi industri sawit Malaysia. Data ekspor, produksi, stok, dan permintaan akan menjadi perhatian utama karena dapat menentukan ke mana arah harga CPO selanjutnya.
Pada perdagangan Kamis, 6 Agustus 2026, kontrak September 2026 turun 21 ringgit menjadi 4.625 ringgit Malaysia per ton.
Tidak hanya kontrak September, kontrak pengiriman berikutnya juga ikut melemah. Kontrak Oktober turun 16 ringgit menjadi 4.686 ringgit per ton. Kontrak November turun 12 ringgit menjadi 4.733 ringgit, sementara kontrak Desember melemah 8 ringgit menjadi 4.775 ringgit per ton.
Kontrak Januari 2027 juga turun 2 ringgit menjadi 4.815 ringgit per ton.
Menariknya, hanya kontrak pengiriman Agustus 2026 yang bergerak naik. Kontrak terdekat tersebut menguat 15 ringgit menjadi 4.534 ringgit Malaysia per ton.
Penurunan harga CPO salah satunya dipengaruhi aksi ambil untung setelah harga sempat menguat dalam dua sesi perdagangan.
Namun, ada alasan lain yang membuat pelaku pasar menahan diri. Mereka sedang menunggu laporan terbaru dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) yang dijadwalkan keluar pada 10 Agustus 2026.
Bagi masyarakat awam, data MPOB penting karena sederhananya laporan ini bisa menunjukkan apakah pasokan minyak sawit Malaysia sedang banyak atau terbatas.
Jika produksi dan stok tinggi tetapi permintaan tidak cukup kuat, harga CPO berpotensi mendapat tekanan. Sebaliknya, jika stok terbatas sementara permintaan ekspor kuat, harga CPO bisa mendapatkan dorongan.
Data ekspor juga penting karena menunjukkan seberapa kuat pembeli dari luar negeri menyerap produk sawit Malaysia.
Meski CPO melemah, ada faktor yang menahan penurunan lebih dalam, yakni harga minyak mentah dunia yang sedang menguat.
Kenaikan harga minyak mentah dapat memberikan keuntungan bagi CPO karena minyak sawit juga digunakan sebagai bahan baku biodiesel. Ketika minyak fosil menjadi lebih mahal, penggunaan minyak nabati sebagai sumber energi bisa semakin menarik.
Namun, penguatan ringgit Malaysia menjadi sentimen yang kurang menguntungkan. Ringgit menguat 0,07% terhadap dolar AS sehingga CPO Malaysia menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli dari luar negeri.
Dengan kondisi tersebut, pasar sawit kini masih menunggu data terbaru. Laporan MPOB pada 10 Agustus akan menjadi salah satu kunci untuk melihat apakah pelemahan harga CPO hanya sementara akibat aksi ambil untung atau berpotensi berlanjut.
Bagi Indonesia sebagai salah satu produsen sawit terbesar dunia, pergerakan harga CPO Malaysia juga layak diperhatikan karena dapat menjadi salah satu gambaran arah pasar sawit global.***






