https://myelaeis.com


Copyright © myelaeis.com
All Right Reserved.
By : Aditya

Berita > Ragam

Bappenas. El Nino Dapat Memengaruhi Pertumbuhan Tanaman dan Produktivitas TBS

Bappenas. El Nino Dapat Memengaruhi Pertumbuhan Tanaman dan Produktivitas TBS

Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Nizhar Marizi. Foto: cnbcindonesia.com

Jakarta, myelaeis.com – Kementerian PPN/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengungkapkan kondisi cuaca kering berpotensi menekan produktivitas komoditas pertanian seperti padi, kelapa sawit, dan kopi.

Namun, di balik ancaman tersebut, El Nino juga membuka peluang bagi sejumlah sektor lain. Produksi garam, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), hingga perikanan tangkap diperkirakan berpotensi mengalami peningkatan.

Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Nizhar Marizi mengatakan pemerintah bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta kementerian/lembaga terkait telah menyusun kajian untuk memetakan dampak El Nino sekaligus peluang yang dapat dimanfaatkan.

Menurutnya, dampak El Nino kuat terbagi dalam beberapa sektor utama, yakni hutan, lahan dan pertanian, energi dan sumber daya air, kesehatan, serta pangan akuatik.

Pada sektor pertanian, Bappenas menilai El Nino dapat menjadi ancaman serius karena berpotensi mengurangi ketersediaan air bagi tanaman. Kondisi tersebut dapat berdampak terhadap produktivitas padi, kelapa sawit, dan kopi.

“Kalau di pertanian dampak El Nino terhadap produktivitas padi, kelapa sawit, kopi, juga tentunya ada risiko gagal panen dan gangguan terhadap organisme pengganggu tanaman,” ujar Nizhar.

Khusus untuk tanaman padi, kekeringan panjang dapat mengganggu proses budidaya, terutama di wilayah yang masih mengandalkan sistem irigasi berbasis curah hujan. Minimnya pasokan air bisa menyebabkan tanaman mengalami stres hingga meningkatkan risiko penurunan hasil panen.

Sementara itu, pada komoditas kelapa sawit, perubahan pola cuaca dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman dan produktivitas tandan buah segar (TBS). Kondisi kering yang ekstrem juga berpotensi meningkatkan risiko gangguan tanaman.

Meski demikian, Bappenas melihat ada peluang yang dapat dimanfaatkan dari kondisi El Nino. Beberapa komoditas yang lebih adaptif terhadap cuaca kering, seperti palawija, hortikultura, dan tebu, dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan.

Selain sektor pertanian, El Nino juga memberikan peluang bagi industri garam nasional. Musim kemarau yang lebih panjang dengan tingkat penguapan tinggi dapat mempercepat proses produksi garam rakyat maupun industri.

Bappenas menyebut kondisi kering membuat proses evaporasi air laut menjadi lebih optimal sehingga produksi garam berpotensi meningkat.
“Dengan kondisi yang lebih kering ini mendukung peningkatan produksi garam karena proses evaporasinya lebih optimal,” jelas Nizhar.

Di sektor energi, fenomena El Nino juga membawa peluang bagi pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Berkurangnya tutupan awan membuat intensitas cahaya matahari meningkat sehingga produksi energi surya berpotensi lebih maksimal.

Menurut Bappenas, kondisi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan penggunaan energi baru terbarukan, termasuk PLTS atap.

Namun, tidak semua sektor energi mendapatkan dampak positif. Berkurangnya curah hujan akibat El Nino dapat menurunkan ketersediaan air yang dibutuhkan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH).

Sementara pada sektor pangan akuatik, El Nino diperkirakan memberikan tekanan terhadap perikanan budidaya seperti ikan lele, nila, udang payau, dan rumput laut akibat perubahan kualitas serta ketersediaan air.

Di sisi lain, perikanan tangkap justru memiliki peluang meningkat. Komoditas seperti tuna, cakalang, dan tongkol diperkirakan dapat mengalami peningkatan hasil tangkapan pada kondisi tertentu.

Selain berdampak pada ekonomi dan pangan, El Nino juga meningkatkan risiko kesehatan masyarakat. Perubahan iklim dan cuaca ekstrem dapat memicu peningkatan penyakit yang sensitif terhadap lingkungan, seperti demam berdarah dengue (DBD), malaria, pneumonia, hingga diare.

Melihat berbagai dampak tersebut, Bappenas menekankan pentingnya strategi adaptasi lintas sektor. Pemerintah perlu memperkuat pengelolaan air, menjaga ketahanan pangan, meningkatkan penggunaan teknologi pertanian, serta mempercepat pengembangan energi terbarukan.

El Nino memang menjadi tantangan besar bagi sektor pangan dan perkebunan. Namun, dengan strategi yang tepat, fenomena iklim tersebut juga dapat membuka peluang ekonomi baru bagi sektor yang mampu beradaptasi.***

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS