https://myelaeis.com


Copyright © myelaeis.com
All Right Reserved.
By : Aditya

Berita > Bisnis

Harga CPO di Bursa Malaysia Ditutup Nyaris Stagnan

Harga CPO di Bursa Malaysia Ditutup Nyaris Stagnan

Petani memuat TBS sawit. Foto: riau1.com

Jakarta, myelaeis.com – Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia Derivatives ditutup nyaris stagnan pada perdagangan Rabu (5/8/). 

Meski masih mencatat kenaikan tipis 0,13 persen ke level RM4.702 per metrik ton, laju penguatan dinilai mulai kehilangan momentum akibat aksi ambil untung (profit taking) yang membatasi kenaikan harga.

Sepanjang sesi perdagangan, kontrak acuan CPO bergerak pada kisaran RM4.702-RM4.710 per metrik ton. 

Pergerakan tersebut mencerminkan fase konsolidasi setelah harga sempat mengalami tekanan akibat aksi jual investor pada perdagangan sebelumnya.

Pelaku pasar menilai sentimen profit taking masih menjadi faktor utama yang membuat reli harga sawit belum mampu berlanjut lebih kuat. 

Kendati demikian, sejumlah faktor eksternal masih memberikan bantalan positif bagi pasar minyak sawit global.

Salah satu penopang datang dari penguatan harga minyak nabati pesaing. Kontrak minyak kedelai (soyoil) di Dalian Commodity Exchange tercatat naik sekitar 0,62 persen, sementara kontrak serupa di Chicago Board of Trade (CBOT) juga bergerak di zona hijau. 

Kenaikan tersebut meningkatkan daya tarik minyak nabati secara keseluruhan, termasuk CPO, karena keduanya menjadi komoditas substitusi di pasar global.

Dukungan lainnya berasal dari pasar energi. Harga minyak mentah dunia kembali menguat sehingga meningkatkan prospek penggunaan CPO sebagai bahan baku biodiesel yang lebih kompetitif. 

Penguatan harga energi fosil umumnya memberikan sentimen positif terhadap permintaan minyak sawit untuk sektor energi terbarukan.

Dari dalam negeri, perhatian pasar juga tertuju pada kebijakan pemerintah Indonesia terkait ekspor sawit. Untuk periode 1-31 Agustus 2026, pemerintah menetapkan Harga Referensi (HR) CPO sebesar US$996,52 per metrik ton. 

Penyesuaian tersebut diikuti penurunan tarif Bea Keluar menjadi US$148 per metrik ton, yang dinilai dapat meningkatkan daya saing ekspor CPO Indonesia di pasar internasional.

Di pasar domestik, harga fisik CPO juga menunjukkan penguatan terbatas. Tender KPBN Inacom untuk wilayah Franco Dumai tercatat naik menjadi sekitar Rp15.650 per kilogram, mencerminkan optimisme pelaku pasar terhadap prospek ekspor meski pergerakan harga global masih dibayangi aksi profit taking.

Ke depan, arah pergerakan harga CPO diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh perkembangan harga minyak nabati dunia, pergerakan minyak mentah, serta kebijakan ekspor negara produsen utama. 

Selama sentimen eksternal tetap positif, peluang penguatan masih terbuka, meski aksi ambil untung diperkirakan akan terus membatasi kenaikan harga dalam jangka pendek.***
 

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS