Medan, myelaeis.com – Penerapan biodiesel B50 yang mulai berlaku secara nasional sejak 1 Juli 2026 masih memunculkan berbagai pertanyaan, terutama terkait dampaknya terhadap performa mesin kendaraan diesel.
Namun, pengalaman sejumlah sopir angkutan yang menggunakan B50 setiap hari menunjukkan hasil yang cukup positif.
Salah satunya disampaikan Herwin Siregar, sopir angkutan umum rute Medan-Sipirok yang mengandalkan Mitsubishi L300 sebagai kendaraan operasionalnya. Ia mengaku belum mengalami kendala berarti pada mesin setelah rutin menggunakan B50.
Herwin mengatakan mesin kendaraan tetap bekerja normal untuk perjalanan harian yang mencapai sekitar enam jam. Dalam sehari, ia menghabiskan biaya bahan bakar sekitar Rp450 ribu.
"Mesin tetap aman, hanya ada sedikit perbedaan saat melintasi jalan yang menanjak," ujar Herwin.
Pengalaman serupa juga diungkapkan Nainggolan, sopir mobil pikap pengangkut ikan asin di Sumatera Utara. Menurutnya, penggunaan B50 tidak menimbulkan masalah pada mesin kendaraan yang digunakan untuk mengangkut barang setiap hari.
"Usai memakai B50, sama saja, tidak ada masalah apa-apa pada mesin. Lancar-lancar saja," katanya.
Pengakuan kedua sopir tersebut disampaikan saat Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot melakukan kunjungan ke SPBU 14.227.322 di Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Dalam kunjungan tersebut, Yuliot meninjau ketersediaan pasokan bahan bakar sekaligus berdialog langsung dengan masyarakat yang telah menggunakan B50.
Pemerintah ingin memastikan implementasi program biodiesel berjalan baik, baik dari sisi distribusi maupun pengalaman pengguna di lapangan.
Menurut Yuliot, masukan dari pengguna menjadi bagian penting dalam evaluasi pelaksanaan mandatori B50 agar program dapat berjalan sesuai harapan.
"Kita mengecek pasokan BBM di seluruh daerah dan melihat implementasi B50 di lapangan, termasuk mendengar langsung pengalaman masyarakat yang menggunakannya," kata Yuliot.
Pemerintah memastikan pasokan B50 terus dijaga agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. Program mandatori B50 juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemanfaatan energi baru terbarukan berbasis sawit sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Sejauh ini, pengalaman para sopir yang menggunakan B50 setiap hari memberikan sinyal positif. Meski ada sedikit perubahan tenaga saat melewati tanjakan, mereka menilai performa mesin tetap normal dan kendaraan masih dapat beroperasi tanpa kendala berarti.***






