https://myelaeis.com


Copyright © myelaeis.com
All Right Reserved.
By : Aditya

Berita > Petani

SPKS: Petani Tidak Boleh Hanya Menjadi Produsen Bahan Baku

SPKS: Petani Tidak Boleh Hanya Menjadi Produsen Bahan Baku

Suasana pelatihan petani kelapa sawit di Aceh Utara oleh SPKS dan BPDP. Foto: Ist

Aceh, myelaeis.com - Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP) terus mendorong hilirisasi sawit rakyat melalui pengembangan usaha produktif berbasis koperasi. 

Salah satu langkah yang dilakukan adalah menyelenggarakan Workshop Inisiasi Pengembangan Produk UMKM Turunan Sawit dan Praktik Lapangan Produksi Pupuk Organik Berbahan Baku Sawit bagi petani dan koperasi sawit di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Kamis (9/7) lalu.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya SPKS dalam memperkuat kemandirian ekonomi petani dan pemberdayaan UMKM dan koperasi petani komoditas perkebunan melalui pemanfaatan potensi sawit secara lebih luas. 

Tidak hanya dari hasil penjualan tandan buah segar (TBS), tetapi juga melalui pengembangan produk turunan yang memiliki nilai tambah ekonomi dan dapat menjadi unit bisnis koperasi petani.

Ketua Umum SPKS, Sabarudin, mengatakan bahwa selama ini sebagian besar petani sawit masih bergantung pada pendapatan dari penjualan TBS. 

Kondisi tersebut membuat pendapatan petani sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga sawit. Karena itu, diperlukan upaya hilirisasi yang mampu menciptakan sumber pendapatan baru bagi petani dan koperasi.

“Petani tidak boleh hanya menjadi produsen bahan baku. Hilirisasi sawit rakyat harus mampu menciptakan nilai tambah yang dinikmati langsung oleh petani. Salah satunya melalui pengembangan pupuk organik berbahan baku sawit yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan kebun sekaligus menjadi peluang usaha baru bagi koperasi petani. Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum untuk UMKM Perkebunan Naik Kelas,” ujar Sabarudin dalam siaran pers yang diterima elaeis.co, Sabtu (18/7)

Menurutnya, limbah sawit yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal memiliki potensi besar untuk diolah menjadi pupuk organik yang bernilai ekonomi. 

Selain membantu mengurangi biaya produksi kebun, pupuk organik juga dapat menjadi alternatif dalam mendukung praktik budidaya sawit yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah menambahkan bahwa BPDP akan terus memperkuat pemberdayaan petani dan pelaku UMKM perkebunan sebagai bagian dari upaya membangun industri sawit yang berkelanjutan dan inklusif.

“BPDP berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan kapasitas petani, koperasi, dan pelaku UMKM perkebunan melalui berbagai program strategis. Selain mendukung pengembangan usaha dan hilirisasi sawit rakyat, BPDP juga menjalankan berbagai program untuk petani sawit, seperti Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), pengembangan sarana dan prasarana, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta berbagai program pemberdayaan lainnya yang telah dirasakan manfaatnya oleh petani di berbagai daerah di Indonesia,” ujar Helmi.

Sementara itu, Ketua SPKS Aceh Utara, Abu Bakar AR, menjelaskan kegiatan ini dirancang tidak hanya memberikan pemahaman teoritis mengenai hilirisasi sawit rakyat, tetapi juga membekali petani dengan keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan di lapangan.

“Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya mendapatkan materi mengenai peluang pengembangan UMKM dan hilirisasi sawit rakyat, tetapi juga mengikuti praktik lapangan secara langsung mengenai proses pembuatan pupuk organik berbahan baku limbah sawit. Pelatihan ini dirancang agar petani dan pengurus koperasi mampu menguasai teknik produksi yang sederhana, mudah diterapkan, dan memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi unit usaha ekonomi koperasi,” katanya.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari strategi SPKS dalam mendorong UMKM perkebunan naik Kelas dengan penerapan ekonomi sirkular di sektor sawit rakyat. Melalui pendekatan tersebut, seluruh potensi tanaman sawit, termasuk limbah dan produk sampingannya, dapat dimanfaatkan kembali untuk menciptakan nilai tambah ekonomi bagi petani.

SPKS menilai pengembangan pupuk organik sawit memiliki manfaat ganda. Selain membantu meningkatkan kesuburan tanah dan mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, usaha ini juga dapat membuka peluang bisnis baru bagi koperasi petani. 

Dengan demikian, koperasi tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pemasaran hasil panen, tetapi juga berkembang menjadi pusat kegiatan ekonomi produktif yang mampu menghasilkan keuntungan bagi anggotanya.

Kabupaten Aceh Utara dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki basis petani sawit rakyat yang cukup besar serta pengalaman panjang dalam penguatan kelembagaan petani melalui koperasi. 

Selama ini SPKS telah aktif melakukan berbagai program pendampingan di wilayah tersebut, mulai dari penguatan organisasi petani, pengembangan unit bisnis koperasi, hingga praktik budidaya sawit berkelanjutan. Upaya tersebut telah berkontribusi terhadap peningkatan kapasitas petani dan keberhasilan petani anggota memperoleh sertifikasi keberlanjutan RSPO.

Selain mendorong hilirisasi sawit rakyat, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat pemulihan ekonomi masyarakat pasca banjir Aceh tahun 2025 yang berdampak terhadap aktivitas ekonomi dan pendapatan petani di sejumlah wilayah Kabupaten Aceh Utara. 

Pengembangan usaha berbasis pupuk organik dan produk turunan sawit diharapkan dapat menciptakan sumber pendapatan tambahan bagi rumah tangga petani serta meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat pedesaan.

Workshop ini melibatkan sekitar 150 peserta yang terdiri dari petani sawit, pengurus koperasi, pemerintah daerah, perusahaan perkebunan, akademisi, mahasiswa, dan media. Kehadiran berbagai pihak tersebut diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dalam pengembangan hilirisasi sawit rakyat di Aceh Utara.

SPKS berharap kegiatan ini menjadi langkah awal lahirnya unit-unit usaha koperasi berbasis pupuk organik sawit yang mampu memperkuat ekonomi petani sekaligus mendukung pembangunan perkebunan sawit yang lebih berkelanjutan.

“Ke depan, koperasi petani harus menjadi pusat bisnis petani. Bukan hanya menjual TBS, tetapi juga mengembangkan berbagai produk bernilai tambah yang mampu meningkatkan kesejahteraan anggota. Hilirisasi sawit rakyat harus dimulai dari desa dan memberikan manfaat nyata bagi petani,” tandasnya.***
 

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS