https://myelaeis.com


Copyright © myelaeis.com
All Right Reserved.
By : Aditya

Berita > Inovasi

Asyik! Mahasiswa Instiper Ngabuburit Sambil Belajar Membatik

Asyik! Mahasiswa Instiper Ngabuburit Sambil Belajar Membatik

Gelaran membatik Fakultas Teknologi Pertanian INSTIPER Yogyakarta. Foto; Ist

Yogyakarta, myelaeis.com  -  Sebanyak 23 orang mahasiswa terlihat belajar membatik lobby Fakultas Teknologi Pertanian INSTIPER Yogyakarta.

Acara tersebut merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat bertajuk “Eko-Batik Lestari, Pemanfaatan Bio Paraffin Kelapa Sawit sebagai Malam Alternatif Ramah Lingkungan dan Keberlanjutan Batik untuk Gen Z”.

Betti Yuniasih selaku Ketua PKM sekaligus dosen dari Fakultas Pertanian menjelaskan program tersebut bertujuan untuk mengenalkan malam kelapa sawit lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan malam berbahan dasar paraffin yang berasal dari minyak bumi.

"Malam sawit ini menggunakan stearin sebagai substitusi dari paraffin," ujarnya dalam siaran pers yang diterima elaeis.co, Rabu (4/3).

Sementara Dina Mardhatillah, Anggota PKM dan juga merupakan dosen Fakultas Teknologi Pertanian menambahkan, staerin merupakan fraksi padat dari turunan minyak kelapa sawit.

Stearin dapat dimanfaatkan sebagai pengganti paraffin karena bersifat biodegradle dan non toksik, dapat diperbarui, dan emisi karbon lebih rendah.

"Stearin memberikan sifat rapuh atau efek retakan (cracking) yang khas pada batik, selain itu stearin membantu malam agar lebih cepat membeku setelah ditorehkan pada kain dan memudahkan proses pelepasan malam (pelodoran) di akhir tahap pewarnaan," imbuhnya.

Gelaran pelatihan membatik itu melibatkan mahasiswa yang merupakan Gen Z. Hal ini bertujuan untuk mengenalkan batik sebagai warisan budaya nasional yang telah diakui dunia. Generasi muda harus ikut aktif melestarikan budaya Indonesia, salah satunya dengan memahami proses membatik.

Keberlanjutan batik tidak hanya sebatas lestari hingga anak cucu, namun dalam proses membatik juga perlu dilakukan upaya-upaya berkelanjutan seperti menggunakan bahan ramah lingkungan seperti malam batik kelapa sawit.

Sementara peserta pelatihan yang merupakan mahasiswa yang berasal dari luar Pulau Jawa, belum pernah membatik sebelumnya. Mereka juga belum pernah tahu kalau turunan minyak kelapa sawit dapat menjadi bahan baku malam batik. Sehingga kegiatan ini menjadi kegiatan menarik bagi mereka untuk ngabuburit sambil menunggu waktu berbuka karena dilakukan di sore hari di Bulan Ramadhan.

Natasya, salah satu mahasiswa yang menjadi peserta dalam kegiatan tersebut mengaku pihaknya tertarik mengikuti kegiatan ini karena dirinya belum pernah belajar membatik sebelumnya.

"Menurut saya kegiatan ini seru karena saya jadi bisa belajar membatik dari mulai menggambar pola, membatik tulis hingga membatik cap. Sebelum mengikuti pelatihan, saya juga tidak tahu kalau turunan minyak sawit bisa menjadi bahan baku membuat malam untuk membatik sebagai pengganti paraffin," ujarnya.

Malam batik kelapa sawit dapat menjadi alternatif batik ramah lingkungan. Peran serta generasi muda penting dalam pelestarian batik juga penting untuk keberlanjutan batik Indonesia.***

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS