https://myelaeis.com


Copyright © myelaeis.com
All Right Reserved.
By : Aditya

Berita > Ragam

Tingginya Produktivitas Sawit Membuat Kebutuhan Lahan untuk Menghasilkan Minyak Nabati Jauh Lebih Kecil

Tingginya Produktivitas Sawit Membuat Kebutuhan Lahan untuk Menghasilkan Minyak Nabati Jauh Lebih Kecil

Ilustrasi kebun sawit. Foto: aprobi.or.id

Jakarta, myelaeis..com – Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) memperingatkan bahwa upaya pelarangan kelapa sawit justru berpotensi meningkatkan deforestasi global. 

Direktur Utama BPDP, Eddy Abdurrahman, menyatakan tanpa sawit dunia membutuhkan tambahan lahan hingga 167 juta hektare untuk menggantikan produksi minyak nabati dari tanaman lain seperti kedelai, rapeseed, dan bunga matahari.

Menurut Eddy, produktivitas minyak nabati menjadi faktor utama dalam menilai efisiensi penggunaan lahan. Berdasarkan data USDA tahun 2021, produksi minyak sawit dunia pada 2020 mencapai 83,5 juta ton, jauh lebih tinggi dibandingkan minyak kedelai sebesar 58,7 juta ton, minyak rapeseed 27,3 juta ton, dan minyak bunga matahari 21,5 juta ton.

Jika dilihat dari sisi produktivitas per hektare, kelapa sawit menghasilkan sekitar 4,3 ton minyak per hektare per tahun dari gabungan crude palm oil (CPO) dan crude palm kernel oil (CPKO). 

Angka ini jauh melampaui produktivitas tanaman minyak nabati lain, seperti rapeseed yang hanya 0,7 ton per hektare, bunga matahari 0,52 ton per hektare, dan kedelai 0,45 ton per hektare.

“Produktivitas sawit hampir sepuluh kali lebih tinggi dibandingkan kedelai, delapan kali lebih tinggi dari bunga matahari, dan enam kali lebih tinggi dari rapeseed,” ujar Eddy, mengutip hasil kajian PASPI Monitor, Sabtu (3/1).

Eddy menjelaskan, tingginya produktivitas sawit membuat kebutuhan lahan untuk menghasilkan minyak nabati menjadi jauh lebih kecil. Hal ini berdampak langsung pada penghematan penggunaan lahan dan pengurangan tekanan terhadap hutan dunia.

Eddy menjelaskan, tingginya produktivitas sawit membuat kebutuhan lahan untuk menghasilkan minyak nabati menjadi jauh lebih kecil. Hal ini berdampak langsung pada penghematan penggunaan lahan dan pengurangan tekanan terhadap hutan dunia.

PASPI Monitor membandingkan dua skenario global, yaitu dunia dengan sawit dan dunia tanpa sawit. Dalam skenario tanpa sawit, kebutuhan minyak nabati global harus dipenuhi dari tanaman lain yang produktivitasnya rendah, sehingga memerlukan tambahan lahan hingga 167 juta hektare.

“Tekanan terhadap hutan dunia akan jauh lebih besar jika minyak sawit tidak dimanfaatkan,” kata Eddy.

Dunia seolah lupa bahwa kedelai, rapeseed, dan bunga matahari juga butuh lahan bahkan jauh lebih luas untuk menghasilkan minyak dalam jumlah yang sama. Tanpa sawit, hutan Amazon, Afrika, hingga Asia Tenggara justru bisa jadi korban berikutnya. Pohon-pohon tumbang bukan karena sawit, tapi karena absennya sawit.

Ironisnya, kampanye larangan sawit kerap datang dari negara-negara yang sejak lama menikmati hasil deforestasi historis mereka sendiri. Kini, dengan nada moral tinggi, mereka menunjuk jari ke selatan. Seolah lupa bahwa solusi iklim tak bisa dibangun dari standar ganda dan sentimen semata.

BPDP menilai narasi pelarangan sawit yang berkembang di sejumlah negara perlu dilihat secara komprehensif dengan mempertimbangkan data produktivitas dan dampak penggunaan lahan. Menurut Eddy, pendekatan berbasis data penting agar kebijakan global tidak justru mempercepat deforestasi melalui pembukaan lahan baru dalam skala besar.

BPDP mendorong agar diskusi global mengenai minyak nabati difokuskan pada peningkatan praktik berkelanjutan dan produktivitas, bukan pada pelarangan komoditas yang terbukti paling efisien dalam penggunaan lahan.***

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS