https://myelaeis.com


Copyright © myelaeis.com
All Right Reserved.
By : Aditya

Berita > Persona

Mulianya Cita-cita Dedi Demi Dilaga: Ingin Membina Petani Kelapa Sawit di Kampung Halamannya

Mulianya Cita-cita Dedi Demi Dilaga: Ingin Membina Petani Kelapa Sawit di Kampung Halamannya

Dedi Demi Dilaga sedang menjalani praktek sebagai mahasiswa AKPY. Foto: Dok. Pribadi-pribadi

DEDI Demi Dilaga  sudah punya rencana tersendiri setelah menamatkan pendidikannya di program diploma satu (D1) Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) untuk program studi (Prodi) Pembibitan Kelapa Sawit.

"Saya ingin balik kampung, Pak," kata Dedi --panggilan akrab Dedi Demi Dilaga-- melalui sambungan telepon, Sabtu (22/2/2025). "Saya ingin berbuat sesuatu untuk orang-orang di tanah kelahiran saya," tambahnya.

Dilahirkan di sebuah desa di Kabupaten Bangko, Provinsi Jambi, Dedi mengaku miris melihat praktek berkebun kelapa sawit yang ia temui selama ini di sana. "Masih jauh dari sentuhan teknologi," ungkapnya.

Dedi menunjuk contoh soal pemilihan bibit. Dikatakan, sebagian besar petani sawit di desanya masih menggunakan cara-cara usang, yang oleh ilmu pertanian modern sudah sejak lama ditinggalkan.

"Mereka memungut buah sawit yang jatuh di batangnya, yang kemudian dibibitkan," terangnya. Padahal, menurut Dedi, oleh ilmu pertanian modern proses pemilihan bibit sawit tidak lagi sesederhana itu.

Kalau masih banyak di antara petani sawit di daerah asalnya belum menikmati derajat kesejahteraan yang layak, menurut Dedi, penyebabnya karena sebagian besar petani di sana belum mengadopsi ilmu pertanian modern.

"Mereka masih terikat dengan cara-cara lama," sambungnya. Dedi menengarai ada sejumlah faktor yang melatarbelakangi hal itu. "Bahwa mereka kurang menguasai keterampilan teknis, itu sudah bisa hampir dipastikan," bebernya.

Dedi juga tidak menutup kemungkinan karena faktor keterbatasan kemampuan modal. Oleh karena modal yang cekak, sebut Dedi, sulit bagi petani untuk mengelola usahanya secara lebih baik lagi.

Dedi juga melihat petani sawit di desa asalnya relatif kurang mendapat bimbingan dan pembinaan aparat dari instansi terkait. "Jarang sekali saya melihat petugas dari dinas atau instansi terkait mendatangi kampung kami," ucapnya.

Padahal, desa di mana Dedi lahir dan dibesarkan merupakan kampung kelapa sawit karena sebagian besar penduduknya menggantungkan sumber ekonomi pada jenis tanaman perkebunan yang satu itu.

Akibat sistem bertani belum sampai pada tingkat yang sejalan dengan perkembangan zaman, menurut Dedi, tingkat produktifitas sebagian besar tanaman kelapa sawit di sana maih tergolong rendah.

Dedi juga tidak menutup diri bahwa realitas semacam itu juga ditemui di kebun sawit milik orangtuanya. "Bapak ada punya sekitar dua sampai tiga hektar kebun kelapa sawit yang dibangun dan dikelola secara mandiri," ujarnya.

Sama dengan tanaman sawit milik masyarakat lain yang sedesa dengannya, Dedi juga melihat tingkat produktifitas kebun sawit milik orangtuanya juga belum sampai pada titik yang seharusnya.

Kendati demikian, Dedi tidak memungkiri realitas bahwa ia bangga menjadi anak petani sawit. Kendati hasil kebun sawit orangtuanya belum maksimal, "Tapi kami sekeluarga telah menikmati tingkat kesejahteraan yang lebih dari cukup," ujar Dedi.

Apa yang selama ini terjadi di tengah masyarakat desanya yang sebagian besar menggantungkan hidup dari sawit, menjadi faktor pendorong utama bagi Dedi untuk kembali ke sana setelah kelak menyelesaikan pendidikan tinggi di Yogyakarta.

"Langkah pertama nantinya tentu dengan terlebih dahulu membenahi kebun sawit milik orangtua," ujarnya. Setelah itu, lanjut Dedi, ia bertekad menjadi pembawa angin perubahan terhadap sistem budidaya tanaman kelapa sawit di tanah kelahirannya.

Tekad Dedi semakin bertambah bulat mewujudkan keinginannya itu kelak, karena setelah meminta restu dari orangtua, Dedi menyebut orangtuanya menyatakan memberi dukungan penuh.

"Saya optimistis ilmu soal sawit yang selama ini saya dalami di AKPY sudah lebih dari cukup untuk mengembuskan angin perubahan dalam soal budidaya tanaman kelapa sawit di desa saya," sambungnya.

Menurut Dedi, kendati baru berkuliah sekitar enam bulan di kampus yang berlokasi di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, itu bekalnya soal ilmu kelapa sawit dinilai sudah agak memadai untuk menawarkan sebuah perubahan.

Langsung Tertarik

Menyelesaikan pendidikan menengah di MAN I Merangin Jurusan IPA tahun 2024, sebelumnya tidak terpikir oleh Dedi berkuliah melalui program beasiswa sawit yang didanai oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) -- belakangan berubah nama menjadi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).

Menurut Dedi, tidak lama setelah menyelesaikan pendidikan nenengahnya di MAN I Merangin, ia mendapat informasi soal program beasiswa sawit yang didanai oleh BPDPKS dari salah seorang kakak kelasnya ketika bersekolah di MAN I Merangin. 

"Saya langsung tertarik," kenang Dedi. Yang membuat Dedi tertarik adalah karena program beasiswa itu, di mana peserta yang dinyatakan lulus akan menikmati sejumlah kemudahan, berbeda halnya bila berkuliah secara regular. 

Bahwa beasiswa itu merupakan program yang mengajarkan ilmu tentang kelapa sawit, menurut Dedi, juga punya daya tarik tersendiri bagi dirinya. Selain anak petani sawit, Dedi juga mengaku sudah sejak kecil "akrab" dengan tanaman itu. 

"Ketika kecil dulu saya sering diajak Bapak ke kebun," tambahnya. Di kebun sawit, menurut Dedi, ia mekakukan banyak hal yang bisa ia perbuat. Misalnya, membantu orangtuanya memanen buah sawit. 

Karena cukup matang mempersiapkan diri untuk ikut tes beasiswa sawit, pada akhirnya Dedi dinyatakan lulus. Terhitung sejak September tahun lalu ia ditempatkan berkuliah di AKPY untuk Prodi Pembibitan Kelapa Sawit.***

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS