Kiki Aulia bersama para rekan sejawatnya di AKPY ketika sedang melakukan praktek lapangan. Foto: Dok. Pribadi
KIKI Aulia menempuh jalan panjang berliku sebelum akhirnya diterima berkuliah di Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) program studi (Prodi) Pemeliharaan Kelapa Sawit untuk program diploma satu (D1) sejak September 2024 lalu.
Bukan proses dia masuk ke lembaga pendidikan itu --karena Kiki diterima melalui jalur afirmasi-- yang menyita waktu, melainkan serangkaian peristiwa yang menyertainya.
Setelah menamatkan pendidikan menengah, SMA, di kampung halamannya tahun 2022, Kiki --panggilan akrabnya-- mencoba tes masuk ke sebuah perguruan tinggi. Tapi Kiki gagal berkuliah karena tidak lulus tes masuk perguruan tinggi yang diinginkannya.
Gagal menembus perguruan tinggi, Kiki ambil inisiatif sendiri dengan bekerja di toko yang terletak tidak jauh dari rumahnya. "Untuk bantu-bantu Ibu," ujar Kiki, menyebut alasannya bekerja, melalui sambungan telepon, Minggu (2/2/2025).
Ketika tengah bekerja di toko tersebut, Kiki mendapat telepon dari neneknya yang menetap di Sulawesi Tenggara (Sulteng). "Ke sinilah, di sini ada peluang pekerjaan," ajak sang Nenek.
Saat itu Kiki menetap bersama orangtuanya di tanah kelahirannya, Desa Lumbewe, Kecamatan Burau, Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).
Terdorong keinginan yang kuat untuk mandiri dan meringankan beban orangtua, Kiki langsung mengiyakan tawaran neneknya. Ia pun bertolak ke Sulteng, dan harus menempuh perjalanan darat selama sekitar 12 jam untuk sampai ke tempat sang Nenek.
Di tempat nenek yang di Sulteng itu, Kiki bekerja pada sebuah lembaga keuangan mirip koperasi.
Belum lama bekerja, giliran Nenek Kiki yang di Desa Lumbewe, yang menelepon. Kepada Kiki, sang Nenek yang bekerja di Dinas Pertanian Pemerintah Kabupaten Luwu itu memberitahukan tentang sebuah peluang.
Peluang dimaksud adalah berkuliah melalui fasilitas beasiswa yang didanai oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) -- belakangan berganti nama menjadi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Menurut sang Nenek, kalau tertarik dengan tawaran itu, Kiki diberi tenggat untuk sampai di Luwu pada waktu yang ditentukan karena akan digelar pertemuan antara pelaksana dengan para calon peserta program beasiswa.
"Semacam sosialisasi," ujar Kiki, mengenang. Tertarik dengan tawaran si Nenek, Kiki langsung mengiyakan, dan menyanggupi sampai di Luwu sesuai batas waktu yang diberikan oleh neneknya.
"Saya pulang sendiri dengan menaiki angkutan umum," sambung Kiki, sambil menambahkan bahwa ia setidaknya memerlukan waktu sekitar 12 jam perjalanan darat untuk kembali sampai di tanah kelahirannya.
Tapi, sebelum kembali ke Luwu, sesuai saran neneknya, Kiki melakukan pendaftaran secara online untuk ikut program beasiswa sawit yang didanai BPDPKS itu.
Ngebetnya Kiki untuk ikut program beasiswa sawit itu bukan tanpa alasan. Mengutip penjelasan neneknya, menurut Kiki, program itu memberi banyak keringanan di segi pembiayaan untuk peserta program
"Ini yang aku inginkan dan aku cari," bisik hati Kiki kala itu. Bagaimana pun, hati kecil Kiki masih menyimpan keinginan yang kuat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Telah merintis upaya ke arah itu, tapi kemudian kandas karena tidak lulus tes masuk. "Mungkin (program beasiswa sawit) ini jalan bagi saya," bisik hatinya lagi.
Yang lebih hebat lagi, guman Kiki, kalau ia jadi menjalani pendidikan melalui jalur tersebut, dari segi pembiayaan dirinya tidak akan memberatkan orangtuanya secara finansial.
Pertimbangan lain, menurut Kiki masih mengutip penjelasan sang Nenek, peluang kerja bagi peserta program tersebut relatif terbuka ketimbang ia berkuliah secara regular.
Kurang Peduli
Kendati Ayahnya tercatat sebagai karyawan sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit di Luwu, menurut Kiki, dulu ia hampir tidak memiliki ketertarikan dan kepedulian terhadap sawit.
"Saya mungkin sama dengan anak-anak karyawan perusahaan perkebunan sawit lainnya, yaitu walau pun sawit telah memberi kehidupan selama ini, sayangnya kepedulian terhadap tanaman itu hampir tidak ada," ungkap Kiki.
Oleh karena mendapatkan beasiswa, untuk kemudian ditempatkan berkuliah di lembaga pendidikan yang mengajarkan tentang perkelapasawitan, menurut Kiki, yang telah menyulut rasa ingin tahunya terhadap tanaman perkebunan yang satu ini.
Tidak kenal maka tidak sayang; Kiki yang awalnya terkesan ogah-ogahan mendalami sawit, secara perlahan tapi pasti kecintaan di hatinya terhadap tanaman itu mulai tumbuh.
"Apalagi setelah saya tahu begitu banyak kegunaan tanaman ini untuk menopang kehidupan umat manusia; saya yang dulu tidak peduli, sekarang malah menggantungkan harapan yang besar terhadap sawit," tandasnya.
Ya, proses belajar yang ia jalani dari hari ke hari di AKPY telah mampu membukakan hati dan pikiran Kiki tentang tanaman yang menjadi gantungan ekonomi jutaan penduduk Indonesia, dan termasuk memberi kontribusi besar bagi perekonomian negeri ini.
Setelah berkuliah di AKPY juga, menurut Kiki, ia sudah tahu teknis bertanam sawit, pemilihan bibit, perawatan tanaman, pemberian pupuk, dan sejumlah pengetahuan teknis lainnya tentang sawit.
AKPY, menurut Kiki, melalui para tenaga pengajarnya juga telah membekali Kiki dengan ilmu tentang siklus musim, unsur hara dan PH yang dikandung tanah, proses pembuatan pupuk kimia dan organik, yang kesemuanya terkait erat dengan tanaman kelapa sawit.
Kiki berharap, ilmu yang ia timba di AKPY akan memberi bekal berarti bagi dirinya untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. "Sebagai anak bangsa, saya juga ingin berkontribusi bagi negeri ini sesuai bidang dan kompetensi yang saya miliki," sebutnya.
Terakhir, Kiki menyatakan sangat berterimakasih kepada kedua orangtua dan saudaranya, tidak terkecuali kepada nenek-neneknya. "Berkat mereka bisa berkuliah di sini," ujarnya.***






